This is the default dialog which is useful for displaying information. The dialog window can be moved, resized and closed with the 'x' icon.

Potensi Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang Timah Sebagai Lahan Budidaya Terpadu Sawit dan Sapi

Penulis: Gigih Pranandi - Jumat, 17 September 2021 | 17:49 WIB

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor primer dalam sistem perekonomian di Indonesia. Sektor yang berkontribusi sebesar 6% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut mampu menyediakan lapangan kerja bagi 53.424 buruh atau 0,42% dari total angkatan kerja Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2019). Salah satu sektor pertambangan yang memiliki prospek yang baik adalah sektor pertambangan timah (Sn). Berkembangnya penggunaan lithium baterai dan terciptanya teknologi mobil listrik meningkatkan kebutuhan timah sebagai salah satu bahan baku utama pembuatan baterai. Di Indonesia, sentral pertambangan timah terdapat di pulau Sumatra yaitu pada Provinsi Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Riau. Mineral timah biasanya ditambang dalam bentuk Kaserit (SnO2) dengan mineral batuan pembawa granit (Dariah et al., 2010).

Selain memberi dampak positif bagi stimulus perekonomian keberadaan tambang timah juga tidak sedikit memberi dampak negatif khususnya bagi lingkungan dan ekosistem. Adanya izin penambangan oleh masyarakat (swakelola) semakin memperluas lahan tambang yang tentutanya juga memperluas dampak lingkungan. Lahan pasca tambang timah umunya akan kehilangan horizon O dan A atau lapisan top soil yang kaya akan unsur hara dan microorganisme. Karateristik lahan pasca tambang timah ditandai dengan adanya tailing dan tanah overboden hasil timbunan dengan PH 3,6-4,6 serta kandungan hara berkisar N 0,02%, P 2,8-3,9 ppm, dan K 4,9-9,6 ppm (Ferry dan Balitri, 2011).

Di sisi lain, besarnya potensi pasar minyak CPO (Crude Palm Oil) menyebabkan adanya perluasan masif areal perkebunan kelapa sawit yang berdampak pada adanya alih fungsi lahan primer pertanian dan hutan sebagai lahan budidaya tanaman kelapa sawit. Hal tersebut jika dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan potensi krisis pangan akibat penurunan produktivitas lahan pertanian primer sebagai sumber bahan pangan masyarakat. Selain mengkonversi lahan pertanian primer, perluasan areal perkebunan kelapa sawit juga dilakukan pada lahan hutan. Penggunaan lahan hutan sebagai areal perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu black campaign bagi industri kelapa sawit Indonesia dengan isu utama yaitu deforestasi.

SELENGKAPNYA

Artikel di atas sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab dari redaksi sariagri.id. Baca term and condition