This is the default dialog which is useful for displaying information. The dialog window can be moved, resized and closed with the 'x' icon.

Sekerat Pola Konsumsi Daging Kerbau

Penulis: JUNAEDI - Selasa, 10 Agustus 2021 | 00:59 WIB

DALAM beberapa tahun terakhir, khususnya sebelum Covid 19 melanda, negara kita selalu melakukan importasi daging kerbau. Tujuan utamanya, selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga untuk mengintervensi (menurunkan) harga daging sapi yang selama ini seringkali melangit. Terlepas dari hal tersebut, tentu ini akan menjadikan masyarakat kita memiliki banyak varian dan pilihan baru dalam mengonsumsi daging. Namun demikian, salah satu persoalan yang muncul adalah tidak semua masyarakat Indonesia familiar dengan daging kerbau. Merujuk pada data susenas dari 2005-2017 tingkat partisipasi konsumsi masyarakat dalam mengonsumsi daging kerbau hanya berkisar satu persen dan tingkat konsumsinya tak lebih dari 250 gram per kapita per tahun. 

Selain itu, data susenas tersebut juga menunjukan adanya tingkat partisipasi masyarakat dalam mengonsumsi daging kerbau maupun jumlah yang dikonsumsi memiliki keragaman yang tinggi dan membentuk pola yang berbeda-beda untuk setiap kelompok masyarakat. Untuk tingkat konsumsi misalnya, secara umum dalam periode tersebut, tingkat konsumsi daging kerbau pada kelompok masyarakat yang tinggal di desa lebih tinggi dibanding dengan kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Hal ini terjadi karena pada umumnya desa menjadi tempat peternakan kerbau sehingga akses masyarakat desa dalam memperoleh daging kerbau relatif lebih mudah. Sementara itu rerata tingkat konsumsi daging kerbau juga menunjukan pola semakin bahwa tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi tingkat konsumsinya baik pada masyarakat di perdesaan maupun pada masyarakat perkotaan.

Oleh karena itu, meskipun tingkat partisipasi dan tingkat konsumsi yang masih rendah namun dalam beberapa tahun terakhir trennya terus meningkat, ada baiknya peran dan potensi daging kerbau (lokal) dioptimalkan. Selain untuk memenuhi dan melengkapi kebutuhan daging masyarakat Indonesia, juga untuk lebih menggali potensi ekonomi produksi atau peternakan kerbau yang tentu dampaknya juga dapat  meningkatkan pendapatan masyarakat.

SELENGKAPNYA

Artikel di atas sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab dari redaksi sariagri.id. Baca term and condition