This is the default dialog which is useful for displaying information. The dialog window can be moved, resized and closed with the 'x' icon.

Krisis Pangan di Depan Mata: Apa yang harus dilakukan Indonesia?

Penulis: Rachmat zia - Creative Director - Rabu, 17 Maret 2021 | 10:40 WIB

Pandemi COVID-19 menyadarkan seluruh umat manusia bahwa pangan merupakan kunci. Ketika pembatasan sosial terjadi, salah satu cara untuk menjaga agar tidak terjadi social unrest adalah memastikan bahwa ketersediaan pangan setiap individu tercukupi. Seluruh pemerintah di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia bergerak cepat memberikan berbagai bantuan sosial untuk masyarakat. Respon cepat dan tepat menjadi kunci untuk mencegah social unrest.

Ketika vaksin ditemukan dan mulai disebarluaskan, jalan terang dari pandemi COVID-19 mulai kelihatan. Dunia tidak boleh berpuas diri sebab masih ada ancaman-ancaman yang tidak kalah berbahaya seperti krisis lingkungan dan krisis pangan. Tulisan ini akan fokus pada isu yang kedua.

Darimana krisis pangan berasal? Pertama dari kenaikan jumlah populasi yang meningkatkan konsumsi. UN memprediksi bahwa populasi global akan mencapai 9,8 miliar. Meningkatnya pertumbuhan populasi tentu akan meningkatkan permintaan pangan dalam level global. Meningkatnya kompetisi untuk lahan, air dan energi, serta eksploitasi ikan, akan berdampak pada kemampuan umat manusia untuk memproduksi makanan (Godfray et al., 2010).   Pandemi COVID-19 mengajarkan bahwa dalam kondisi krisis, masing-masing negara akan sebisa mungkin memenuhi kebutuhan permintaan pangan dalam negeri dibandingkan ekspor.  

SELENGKAPNYA

Artikel di atas sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab dari redaksi sariagri.id. Baca term and condition